Kaum Urban

Selesai sudah ritual mudik tahun ini, orang-orang mulai kembali dengan ativitas masing-masing, cerita perjalanan yang melelahkan terlupakan sudah, tetapi episode cerita baru sedang dimulai dengan pemeran orang-orang urban yang baru saja menginjakan kaki merambah gersangnya belantara persaingan hidup di kota besar, berbekal referensi kesuksesan tetangga ketika mudik dengan baju baru dan beragam oleh-oleh yang dibawa, cukup membuat tergiur untuk mencari peruntungan meski hanya berbekal nekad semata.

Hak mendapatkan penghidupan yang layak memang milik semua orang seperti halnya hak untuk menginjakkan kaki di setiap jengkal wilayah negeri ini, akan tetapi sebuah penuntutan hak tanpa memenuhi sebuah kewajiban adalah sebuah ketimpangan yang tidak mustahil berujung pada sebuah malapetaka. Kesal melihat semerawutnya trotoar yang dipenuhi para PKL , apa mau dikata mereka berkata hanya mencari haknya untuk sekedar bisa makan, miris hati melihat penggusuran rumah petak layaknya sedang terjadi perang antar suku, apa mau dikata mereka sekedar hanya mempertahankan tempat berteduh dari sengatan matahari dan guyuran air hujan. Jika saja mereka mengerti bahwa trotoar adalah hak pejalan kaki dan lahan kosong itu adalah hak yang menguasainya, mungkin itu adalah keadaan dimana penguasa sudah memenuhi akan kewajiban untuk mensejahterakan rakyatnya.

Delapan puluh persen peredaran uang adalah di ibu kota, entah berapa persennya lagi dikota-kota besar, dan hanya menyisakan sedikit di desa-desa, itu terbukti dengan hanya menjadi pengamen, pedagang asongan atau pemulung rongsokan di kota besar, untuk sekedar urusan perut sudah bisa terpenuhi.

Seketat apapun peraturan yang mengurusi kaum urban sepertinya tidak akan efektif, sebab kalau berbicara kaum urban, Presiden, Wakil Presiden, jajaran kabinet dan para pejabat lainnya kebanyakan adalah kaum urban, termasuk penyaji blog ini, hanya permasalahannya jika akan ikut-ikutan jadi kaum urban jadilah kaum urban yang berbekal kemampuan untuk bekerja mesti peluang itu sedikit sekali.

Ekonomi pedesaan dengan landasan otonomi daerah belum terlihat menggebirakan, sentralisasi bisnis diperkotaan menjadi magnet para pencari kerja, padahal sebenarnya jika saja sebuah industri yang cukup memerlukan banyak tenaga kerja, tidak ada salahnya melakukan jemput bola mendirikan perusahaan di desa-desa, selain tenaga kerja bisa lebih sejahtera karena tidak terbebani dengan biaya hidup tinggi, juga akan membangun peluang bisnis baru karena rata-rata potensi yang ada di desa belum cukup banyak terekploitasi, namun semua itu masih tetap memerlukan dukungan dari pemerintah daerah setempat terutama tersedianya infrastruktur yang memadai dan sebuah kebijakan yang benar-benar menguntungkan semua pihak.

Sudah beberapa tahun ini setiap mudik mengunjungi rumah peninggalan orang tua tidak disambut dengan opor ayam, ketupat dan kue khas kampung lainnya, karena memang kedua orang tua sudah menghadap sang Pencipta. Namun kunjungan tahun ini sedikit berbeda, rumah tua yang lapuk namun menyimpan segudang kenangan itu dikontrak oleh seorang pengusaha lokal untuk dijadikan konveksi dengan para pekerja kebanyakan para kerabat, uang kontrakannya tidak seberapa, tetapi sangat membanggakan, tidak berlebihan jika disematkan Award salam sukses untuknya, sehingga kini para kerabat itu tidak lagi merengek rengek untuk ikut-ikutan menjadi kaum Urban.

16 Responses to Kaum Urban

  1. Ly says:

    Pertamaaaaaaaaxx…..!!!

  2. Ly says:

    huehuhueh…. wah kalau bis mudik jangan bawa pasukan lagi donk ooomm… pan dah penuh jakarta hikz….
    Btw… Kampung na’ di mana tuh kayaknya adem bangeeett???

  3. Wempi says:

    ntar kalo kedesa bawa pakaian paling jelek, biar orang2 dikampung ngira ternyata hidup di kota itu susah ya…, kalo ke desa pamer ya ga nahaaaaaaannnnnn….

  4. indra1082 says:

    Minal Aidin Wal Faidzin
    Mohon Maaf Lahir dan Batin

  5. mohon maaf lahir dan batin omzz

  6. yodama says:

    ya begitulah “ritual mudik”. Sebuah ritual utk dpt saling bersilaturahmi dg keluarga, handai taulan. Baik sebenarnya asal tidak berlebih-lebihan saja.

    Mungkin ada beberapa cerita ttg mudik agar ketika tiba di kampung, org2 kampung akan menganggapnya dy telah sukses di kota.
    Barangkali ada yg mudik membawa mobil yg bgs meskipun hanya sekedar mobil carteran (rental). Yang nanti bila telah balik ke kota, mobil tsb pun dikembalikan lg.
    Ada yg berganti model HP terbaru (3,5 G), meskipun hanya utk voice en sms. Jadi, meskipun HP-nya canggih tapi utilisasi tdk maksimal. Sungguh suatu pemborosan. Dan nanti pun bila balik ke kota, HP tersebut (terkadang) dijual kembali.

    Seharusnya, syawal sbg bulan peningkatan diri, peningkatan kualitas ibadah tentunya.
    Tetap semangat! Chayo! Ma’an najah!

  7. minal aidin wal faizin…
    situasi musik emang sll bkn rubet y, dr persiapan sampe perjalanannya sll bkn pusing dech, makanya aQ plg g tahan klo harus jalan2 ke suatu daerah walopun blm tentu mudik sich..hehe….tp kadang2 klo udah nyampe, jd inget ttg perjalanan n persiapan sblmnya, ternyata emang unik rasanya…kok jd g gejasl gini sich komentQ…wkwkw

  8. gajahkurus says:

    Sekiranya di kampung/pedesaan ada pekerjaan yang sesuai dengan keahlian saya, pasti saya akan memilih tinggal di kampung๐Ÿ™‚ Sayangnya hingga hari ini saya belum menemukan jenis pekerjaan yang cocok buat saya. Lagian kalaupun ada, apakah mereka mau menerima pekerja yang sudah lansia seperti saya? hehehe
    Menciptakan lapangan kerja di pedesaan, tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu modal, kesungguhan, SDM yang mumpuni, apalagi di masa birokrasi yang sulit seperti sekarang. Jadi, sementara baru harapan, harapan semoga ke depan pemerintah daerah lebih jeli membaca potensi daerah, memberdayakan SDM lokal, menciptakan lapangan kerja untuk warga setempat.

  9. yakhanu says:

    terbuakti orang pendatang lebih gigih dalam nyari rupiah
    75% pemilik kost dan kontrakan udah menjadi milik pendatang

  10. wah, rumit, pak marko, kalau sudah bicara masalah ekonomi pedesaan. kultur masyarakat pedesaan yang harus diakui masih memandang ibukota sebagai “magnet ekonomi” bisa menjadi penghambat serius pemberdayaan ekonomi. semoga ada perubahan kultur sehingga mereka bisa memberdayakan ekonomi di daerahnya masing2.

  11. FaNZ says:

    hmmm
    baca dlu yah๐Ÿ˜€

  12. edratna says:

    Sebetulnya tak masalah adanya kaum urban ke Jakarta, yang jadi masalah jika mereka menambah pengangguran, padahal biaya hidup di jakarta lebih tinggi dibanding di kampung. Paling tidak, yang membawanya ke jakarta, telah ada kepastian bahwa saudara atau teman yang dibawanya mendapat pekerjaan di Jakarta…

  13. Yari NK says:

    Selama masih ada kesenjangan yang menganga antara urban dan rural tetap saja menjadi masalah yang pelik. Jangan harap masalah ini selesai kalau pembangunan sangat tidak merata.
    O iya…. kalau dilihat dari kacamata internasional, Malaysia itu adalah daerah urban sedangkan Indonesia itu daerah rural, habis banyak dari bangsa kita yang ber’urbanisasi’ ke Malaysia…huehehe…..

  14. Zulmasri says:

    begitulah indonesia, semua terpusat di jakarta. kadang gengsi dipertaruhkan pula.

    jadi ingat tulisan marshmallow, di ibukota australia yg dikunjungi, suasananya begitu sepi

  15. Aku datang

    Dengan tangan telanjang

    Mengucap salam

    Dan jiwa pun berpelukan

  16. avartara says:

    masalah yang selalu melanda bangsa ini,.. apakah ini disebabkan disparitas yang terlalu tinggi?
    Met Idul Fitri Pak,… mohon maaf lahir bathin๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: