DUA KOSONG KOSONG DELAPAN – DUA KOSONG KOSONG SEMBILAN

December 31, 2008

JEJAK ITU SEMAKIN BANYAK

ADA PADA TANAH

PASIR DAN JUGA BATU

JIWA KADANG HAMPA KADANG BERMAKNA

MENGIKUTI HEMBUSAN ANGIN MEMBAWA AWAN

MATAHARI KIAN REDUP

MEMBUNGKAM KENANGAN SEBUAH HITUNGAN

SETUMPUK CATATAN TUAN JURU TULIS

UNTUK DILAPORKAN PADA PAK LURAH

TUTUP BUKU,

ADA TAWA JUGA ADA DARAH DI JALUR GAZA

HARI INI LEMBARAN MASIH KOSONG

CATAT YANG BAIK-BAIK SAJA

DAN JIKA ESOK MATAHARI MENYERUAK

BANGUN LEBIH PAGI

MELIHAT TETES EMBUN PADA DAUN

BERHARAP DUNIA LEBIH ANGGUN

BERBALUT CINTA MERAH MARUN

DAN BERLANJUT SETIAP GANTI TAHUN

Advertisements

LUMPUR ITU MASIH MENYERUAK

December 28, 2008

LUMPUR LAPINDOAkhirnya sempat ngeblog lagi, kesibukan di KM 26 Surabaya-Sidoarjo cukup melelahkan, 14 jam menyusuri pantura berakhir di ujung Tol Malang-Pasuruan, memang buntu, karena jalan Tol itu telah menukik memasuki lautan lumpur yang mengerikan itu, kesempatan tidak disia-siakan untuk menyaksikan langsung suasana disana. Minggu pagi yang mendung, dengan tiket 2500 sebagai sumbangan meniti tanggul yang masih terus diperkuat, entah sampai kapan karena semburan tak mau berhenti jua, sebenarnya pemandangan yang didapat bukanlah keindahan yang seperti mengunjungi danau atau pantai, namun kengerian menyaksikan rumah yang tinggal puing atap dan pohon yang meranggas disinggahi burung yang memburu capung, karena tidak ada ikan yang hidup disana. Semakin siang semakin cerah, bumbungan asap dari semburuan utama makin jelas, sejauh mata memandang lautan lumpur semakin jelas hitam keabuan. Melihat situasi begini, apakah kita hanya akan menyalahkan alam ? dan berkata ini sebuah bencana ? sementara sisi keserakahan manusia terabaikan demi sebuah ambisi. Entah kata-kata apa lagi yang mesti diucapkan, hanya perasaan diri ini begitu kecil dan tiada apa-apanya dihadapan alam ciptaan Tuhan.  Aku beranjak pulang dengan kepingan VCD sebagai buah tangan hasil karya anak-anak Karang Taruna yang mengabadikan rentetan bencana kampung halaman yang tinggal kenangan.


Celoteh pekan ini

November 17, 2008

Elegi Bandung Utara

Kembang ilalang tertiup angin di Ciumbuleuit

Merebah rasa tak teraba

Mengusik hati yang lagi sepi

Kembang ilalang tertiup angin di Ciumbuleuit

Melayang sampai ke ujung jalan

Memberi harapan dan angan-angan

Meski agak terburu buru

Berpacu dengan gelayut awan

Takut becek jalan tertimpa hujan

Kembang ilalang bergoyang ditiup angin

Etah sampai kapan bisa bertahan

pic_0006

Sehelai Daun Jambu

Bintang berkedip tak berbulu mata

satu diutara, satu diselatan

terhalang tirai daun jambu

yang rimbun di halaman depan

Ketika helai tersingkap angin

jatuh, menimpa rindu

tersingkap sedikit bisa ngintip

dari celah daun jatuh

Kutunggu angin bertiup kencang

berharap daun rontok berantakan

pada musim gugur bulan depan

dan bulan dimakan naga.


Kaum Urban

October 9, 2008

Selesai sudah ritual mudik tahun ini, orang-orang mulai kembali dengan ativitas masing-masing, cerita perjalanan yang melelahkan terlupakan sudah, tetapi episode cerita baru sedang dimulai dengan pemeran orang-orang urban yang baru saja menginjakan kaki merambah gersangnya belantara persaingan hidup di kota besar, berbekal referensi kesuksesan tetangga ketika mudik dengan baju baru dan beragam oleh-oleh yang dibawa, cukup membuat tergiur untuk mencari peruntungan meski hanya berbekal nekad semata.

Hak mendapatkan penghidupan yang layak memang milik semua orang seperti halnya hak untuk menginjakkan kaki di setiap jengkal wilayah negeri ini, akan tetapi sebuah penuntutan hak tanpa memenuhi sebuah kewajiban adalah sebuah ketimpangan yang tidak mustahil berujung pada sebuah malapetaka. Kesal melihat semerawutnya trotoar yang dipenuhi para PKL , apa mau dikata mereka berkata hanya mencari haknya untuk sekedar bisa makan, miris hati melihat penggusuran rumah petak layaknya sedang terjadi perang antar suku, apa mau dikata mereka sekedar hanya mempertahankan tempat berteduh dari sengatan matahari dan guyuran air hujan. Jika saja mereka mengerti bahwa trotoar adalah hak pejalan kaki dan lahan kosong itu adalah hak yang menguasainya, mungkin itu adalah keadaan dimana penguasa sudah memenuhi akan kewajiban untuk mensejahterakan rakyatnya.

Delapan puluh persen peredaran uang adalah di ibu kota, entah berapa persennya lagi dikota-kota besar, dan hanya menyisakan sedikit di desa-desa, itu terbukti dengan hanya menjadi pengamen, pedagang asongan atau pemulung rongsokan di kota besar, untuk sekedar urusan perut sudah bisa terpenuhi.

Seketat apapun peraturan yang mengurusi kaum urban sepertinya tidak akan efektif, sebab kalau berbicara kaum urban, Presiden, Wakil Presiden, jajaran kabinet dan para pejabat lainnya kebanyakan adalah kaum urban, termasuk penyaji blog ini, hanya permasalahannya jika akan ikut-ikutan jadi kaum urban jadilah kaum urban yang berbekal kemampuan untuk bekerja mesti peluang itu sedikit sekali.

Ekonomi pedesaan dengan landasan otonomi daerah belum terlihat menggebirakan, sentralisasi bisnis diperkotaan menjadi magnet para pencari kerja, padahal sebenarnya jika saja sebuah industri yang cukup memerlukan banyak tenaga kerja, tidak ada salahnya melakukan jemput bola mendirikan perusahaan di desa-desa, selain tenaga kerja bisa lebih sejahtera karena tidak terbebani dengan biaya hidup tinggi, juga akan membangun peluang bisnis baru karena rata-rata potensi yang ada di desa belum cukup banyak terekploitasi, namun semua itu masih tetap memerlukan dukungan dari pemerintah daerah setempat terutama tersedianya infrastruktur yang memadai dan sebuah kebijakan yang benar-benar menguntungkan semua pihak.

Sudah beberapa tahun ini setiap mudik mengunjungi rumah peninggalan orang tua tidak disambut dengan opor ayam, ketupat dan kue khas kampung lainnya, karena memang kedua orang tua sudah menghadap sang Pencipta. Namun kunjungan tahun ini sedikit berbeda, rumah tua yang lapuk namun menyimpan segudang kenangan itu dikontrak oleh seorang pengusaha lokal untuk dijadikan konveksi dengan para pekerja kebanyakan para kerabat, uang kontrakannya tidak seberapa, tetapi sangat membanggakan, tidak berlebihan jika disematkan Award salam sukses untuknya, sehingga kini para kerabat itu tidak lagi merengek rengek untuk ikut-ikutan menjadi kaum Urban.


Lelah

October 8, 2008


A way to Paradise

September 29, 2008

Ruh yang masih menikmati nafas dari atmosfir yang tak terbatas,

mengharapkan kesucian dari belanga yang penuh busa,

memohon pintu-pintu maaf itu terbuka sampai arasy tanpa awan,

membebaskan semua belenggu mesti tak berkunci air mata, jabat erat dan kata-kata semata

Dosa adalah perbuatan

Karena hidup di alam nyata

Maaf adalah makna

Karena bathin tak berpelana

Ya…Rab,

Maknai selamanya suasana hati,

seperti hari yang fitri itu.

Amin.

Me & family


Nikmatnya lapar & dahaga

September 24, 2008

Tak kudengar lagi kukuruyuk ayam di pagi buta, karena suara ayam itu mungkin sudah tak berharga, apalah artinya suara ayam dibanding opor yang tersaji lezat di meja makan. Ketika suara kendaraan bermotor yang menderu haru sehari semalam memadati jalan raya, suara jengkrik dan binatang malam menjadi sebuah kerinduan, tetapi perjalanan ini sudah menggariskan untuk terdampar di belantara kota yang kadang memuakan. Ketika terhenyak bahwa jiwa raga ini masih diberi kesempatan berkelana diantara bermilyar-milyar orang, entah berapa ton biji padi yang telah tersantap dan entah berapa ribu kubik air telah terminum masih saja tetap lapar dan haus selalu mengiringi. Bunga bakung dalam jembangan, kuncup, mekar, lalu layu cukup memberikan terjemahan tentang suatu ayat yang tersirat, manusia didunia hanya lewat, dan ternyata semuanya juga hanya lewat, seperti lewatnya makanan dan tegukan air dikerongkongan yang memberi nikmat sesaat dan mudah terlupakan karena esok juga masih tetap mengharapkan. Ternyata nikmat itu akan terasa tiadataranya ketika pengharapan terpenuhi, hanya sebuah sebab dan akibat yang menjadikannya, nikmatnya sesuap nasi adalah ketika kelaparan dan nikmatnya seteguk air adalah ketika kehausan.

Subhanallah.