Kaum Urban

October 9, 2008

Selesai sudah ritual mudik tahun ini, orang-orang mulai kembali dengan ativitas masing-masing, cerita perjalanan yang melelahkan terlupakan sudah, tetapi episode cerita baru sedang dimulai dengan pemeran orang-orang urban yang baru saja menginjakan kaki merambah gersangnya belantara persaingan hidup di kota besar, berbekal referensi kesuksesan tetangga ketika mudik dengan baju baru dan beragam oleh-oleh yang dibawa, cukup membuat tergiur untuk mencari peruntungan meski hanya berbekal nekad semata.

Hak mendapatkan penghidupan yang layak memang milik semua orang seperti halnya hak untuk menginjakkan kaki di setiap jengkal wilayah negeri ini, akan tetapi sebuah penuntutan hak tanpa memenuhi sebuah kewajiban adalah sebuah ketimpangan yang tidak mustahil berujung pada sebuah malapetaka. Kesal melihat semerawutnya trotoar yang dipenuhi para PKL , apa mau dikata mereka berkata hanya mencari haknya untuk sekedar bisa makan, miris hati melihat penggusuran rumah petak layaknya sedang terjadi perang antar suku, apa mau dikata mereka sekedar hanya mempertahankan tempat berteduh dari sengatan matahari dan guyuran air hujan. Jika saja mereka mengerti bahwa trotoar adalah hak pejalan kaki dan lahan kosong itu adalah hak yang menguasainya, mungkin itu adalah keadaan dimana penguasa sudah memenuhi akan kewajiban untuk mensejahterakan rakyatnya.

Delapan puluh persen peredaran uang adalah di ibu kota, entah berapa persennya lagi dikota-kota besar, dan hanya menyisakan sedikit di desa-desa, itu terbukti dengan hanya menjadi pengamen, pedagang asongan atau pemulung rongsokan di kota besar, untuk sekedar urusan perut sudah bisa terpenuhi.

Seketat apapun peraturan yang mengurusi kaum urban sepertinya tidak akan efektif, sebab kalau berbicara kaum urban, Presiden, Wakil Presiden, jajaran kabinet dan para pejabat lainnya kebanyakan adalah kaum urban, termasuk penyaji blog ini, hanya permasalahannya jika akan ikut-ikutan jadi kaum urban jadilah kaum urban yang berbekal kemampuan untuk bekerja mesti peluang itu sedikit sekali.

Ekonomi pedesaan dengan landasan otonomi daerah belum terlihat menggebirakan, sentralisasi bisnis diperkotaan menjadi magnet para pencari kerja, padahal sebenarnya jika saja sebuah industri yang cukup memerlukan banyak tenaga kerja, tidak ada salahnya melakukan jemput bola mendirikan perusahaan di desa-desa, selain tenaga kerja bisa lebih sejahtera karena tidak terbebani dengan biaya hidup tinggi, juga akan membangun peluang bisnis baru karena rata-rata potensi yang ada di desa belum cukup banyak terekploitasi, namun semua itu masih tetap memerlukan dukungan dari pemerintah daerah setempat terutama tersedianya infrastruktur yang memadai dan sebuah kebijakan yang benar-benar menguntungkan semua pihak.

Sudah beberapa tahun ini setiap mudik mengunjungi rumah peninggalan orang tua tidak disambut dengan opor ayam, ketupat dan kue khas kampung lainnya, karena memang kedua orang tua sudah menghadap sang Pencipta. Namun kunjungan tahun ini sedikit berbeda, rumah tua yang lapuk namun menyimpan segudang kenangan itu dikontrak oleh seorang pengusaha lokal untuk dijadikan konveksi dengan para pekerja kebanyakan para kerabat, uang kontrakannya tidak seberapa, tetapi sangat membanggakan, tidak berlebihan jika disematkan Award salam sukses untuknya, sehingga kini para kerabat itu tidak lagi merengek rengek untuk ikut-ikutan menjadi kaum Urban.


Lelah

October 8, 2008


A way to Paradise

September 29, 2008

Ruh yang masih menikmati nafas dari atmosfir yang tak terbatas,

mengharapkan kesucian dari belanga yang penuh busa,

memohon pintu-pintu maaf itu terbuka sampai arasy tanpa awan,

membebaskan semua belenggu mesti tak berkunci air mata, jabat erat dan kata-kata semata

Dosa adalah perbuatan

Karena hidup di alam nyata

Maaf adalah makna

Karena bathin tak berpelana

Ya…Rab,

Maknai selamanya suasana hati,

seperti hari yang fitri itu.

Amin.

Me & family


Nikmatnya lapar & dahaga

September 24, 2008

Tak kudengar lagi kukuruyuk ayam di pagi buta, karena suara ayam itu mungkin sudah tak berharga, apalah artinya suara ayam dibanding opor yang tersaji lezat di meja makan. Ketika suara kendaraan bermotor yang menderu haru sehari semalam memadati jalan raya, suara jengkrik dan binatang malam menjadi sebuah kerinduan, tetapi perjalanan ini sudah menggariskan untuk terdampar di belantara kota yang kadang memuakan. Ketika terhenyak bahwa jiwa raga ini masih diberi kesempatan berkelana diantara bermilyar-milyar orang, entah berapa ton biji padi yang telah tersantap dan entah berapa ribu kubik air telah terminum masih saja tetap lapar dan haus selalu mengiringi. Bunga bakung dalam jembangan, kuncup, mekar, lalu layu cukup memberikan terjemahan tentang suatu ayat yang tersirat, manusia didunia hanya lewat, dan ternyata semuanya juga hanya lewat, seperti lewatnya makanan dan tegukan air dikerongkongan yang memberi nikmat sesaat dan mudah terlupakan karena esok juga masih tetap mengharapkan. Ternyata nikmat itu akan terasa tiadataranya ketika pengharapan terpenuhi, hanya sebuah sebab dan akibat yang menjadikannya, nikmatnya sesuap nasi adalah ketika kelaparan dan nikmatnya seteguk air adalah ketika kehausan.

Subhanallah.


Oh… Ramadhan.

September 20, 2008

Sebuah kedamaian menjelang Ramadhan, menyongsong sebuah kesucian, ketika kini separuh telah dijalani, akankan kepompong mengubah ulat menjijikan menjadi kupu-kupu dengan sayap bermotif paling indah di dunia mengapak udara, menyusuri alam raya, dan semua berkata : KUPU-KUPU YANG LUCU.


Kecupan pertama

July 27, 2008

Waktu kita sepayung berdua menyusuri jalan desa, hujan pagi hari tak henti seakan mengerti, perasaan kita berkecamuk diantara kata basa basi yang tak berarti, tapi kita yakin ada inti yang seragam seperti halnya warna baju kita, putih dan abu. Burung kenari di pohon jati berkicau memberi irama pada langkah-langkah kecil kita yang sengaja diperlambat, kamu terperanjat sedikit manja ketika tupai meloncat dari pohon nangka tepat disamping kita. Payung telah dilipat, kita duduk dalam angkutan berdampingan, menghangatkan dan jadi kesempatan, hanya diam mengikuti kolak-kelok jalanan berharap sang sopir nginjak rem agak kasar, sesekali melirik jam tangan karena takut kesiangan, sementara kamu berguman getir ketika seorang pejalan kaki kecipratan air dari lobang yang kelindes ban. Di pintu gerbang kita berpisah karena ruang kita berbeda, sepuluh menit masih ada waktu, kamu bilang pulang tidak usah saling tunggu, tapi ingat ini hari sabtu, dan kamu berbisik nanti malam akan menunggu. Puisi seribu baris yang tak habis-habis, ada manja dan tertawa, kadang berbumbu cemburu yang semakin membikin rindu, semua kita torehkan berdua dengan pena bertinta cahaya rembulan, disini, diberanda rumahmu. Tiupan angin malam pada daun kelapa berirama senada dengan back sound pembaca puisi di radio, puisi yang aku tulis hari Rabu dan diantar tadi siang, kamu nikmati puisi itu, senikmat genggaman erat jemari lentikmu. Bunga sedap malam dipekarangan mulai harum meski masih kuncup, jangan dulu dipetik, mungkin tengah malam nanti merekah, setelah kita masing-masing dibuai mimpi indah. Waktu begitu cepat berlalu, jam dindingpun berdentang membuat cecak-cecak berlompatan, pesan papamu datang lewat si bibi, malam sudah larut, saatnya pamit diantar ke tepi pagar. Untuk malam ini aku rela, pergi menembus kegelapan malam yang sunyi, gelayut tangan dipundak membuai asa dari ujung kaki ke ubun-ubun, kita sama-sama mengerti, kecupan lembut yang begitu berarti yang pertama dalam hidup ini, tak ada kata lagi, kamu berbalik dan berlari, akupun melenggang berdendang menghitung bintang.

( Paparan ini adalah mantra, bagi orang-orang pencari cinta, jika anda masih remaja jangan terlalu manja, dan jika anda telah dewasa nikmatilah ajaibnya alam raya, bersyukur sujud pada yang Kuasa, karena cinta adalah makna dari saripati bunga ).

tvtropes.org (pinjem gambar)


Malam Pertama

July 25, 2008

Permainan lempar dadu itu telah selesai, tak ada lagi harap-harap cemas untuk memenangkan undian, kini hadiah itu telah digenggaman, sebuah hadiah yang bukan saja aku idam-idamkan, tetapi ternyata juga kamu yang diperundikan, bak gayung bersambut kita dipertemukan, aku asam di gunung, kamu garam dilaut, dalam belanga jua kita bersua. Habis sudah penasaran, beribu puisi yang aku dadarkan, berjuta narasi yang aku sajikan, tak berarti apa-apa, sebenarnya kamu juga tidak butuh semua itu, dan kini baru aku tahu, yang kamu inginkan hanyalah ucapan cinta yang tulus dari bibir yang kelu karena terlalu menggebu. Kesempatan ini takkan aku sia-siakan, karena pengembaraan ini hanya satu kali dalam seumur hidup, layar perahu telah berkembang, samudra luas nan membentang, dipandu navigasi gugusan bintang, kita lepas sauh menuju arah jauh pulau impian. Jika nanti badai menggucang, kamu akan aku teduhkan, dan biarkan aku menahkodai kapal ini dengan dayung bajaku yang terbiasa ditiup angin lautan dan tak heran diguncang badai. Sesaji telah dibereskan, plaminan telah dipulangkan, hanya tinggal janur kuning di mulut gang, biarlah mengering kalau tidak ada yang memindahkan. Kini kita dalam sunyi, berbisikpun rasa risih, ternyata keindahan itu nyata dan benar adanya.

Pengen lebih seru ? buka : www2.kompas.com/ver1/Kesehatan/0608/24/174044.htm


Cinta Pertama

July 23, 2008

Melekat digenggaman harum bunga melati yang kau berikan di bukit itu,  meski tak ada potret album kenangan,  masih terasa sandaran tubuh mungil di dada ini ketika melewati pohon rindang itu, senyum, canda dan tawa bak syair pengantar tidur membuai lorong impian tiap malam, dan kita hanya tersipu malu karena tak pernah terucap kata cinta barang sepatahpun, tak ada penyesalan waktu itu, sebab kita berpisah dipersimpangan menuju arah angin masing masing, aku ke barat dan kamu ke timur, Tapi, bara yang kau simpan dalam tempayan kedamaian semakin menggelora, siraman air hujan sepanjang hari tak sanggup untuk memadamkan, rona pelangi di wajah kian terlukiskan, sayu tatapan mata makin tergambarkan,  celoteh kecerdasan makin tajam tertuliskan. Merpati yang kulepas untuk sekedar menanyakan kabar tak pernah kembali, salam yang kutitipkan pada angin malam tak pernah memberi jawaban, akupun tak menghiraukan, karena masih ada bulan yang bersinar dan kutatap malam ini, dan akupun yakin bahwa bulan yang aku tatap adalah bulan yang kau lihat juga. Kini harum melati itu kukunci dalam lemari, kusimpan dalam lipatan sebagai pemandu perjalanan, tidak ada penyesalan, tapi tidak pula ada harapan, hanya akan aku pigurakan, bahwa kamu  “ Gadis yang sedikit tomboy dengan  tahi lalat dipipi “ pernah singgah pada hati yang masih suci.

 

(Gambar poenya : http://www.free-stockphotos.com)


Untukmu yang mencintai aku

July 20, 2008

Sudah kukatakan bahwa cintaku padamu didasari kasih sayang yang tak terhapuskan, sengaja tak kutulis dalam helai daun lontar, takut angin dan panas memudarkan, biarlah kutulis jadi prasati yang abadi, ketahuilah bahwa perjalannku sudah menepuh berpuluh ngarai, menerobos padang ilalang, luka goresan dan tusukan duri di kaki hanya membuatku lebih berambisi mengejar angan-angan yang aku anggap pasti.

Ketika angin membawa kabar bahwa kamu adalah satu-satunya yang mesti aku cintai, rembulanpun mengamini, memberi kado pada malam yang kuning langsat keemasan, waktu embun masih tidur tak hiraukan kicau burung, aku sudah bangun dan tertegun menatap sinar mentari yang jatuh lewat kisi-kisi jendela.

Sehelai daun jambu jatuh tepat dipelupuk rindu yang mengebu, bunga ilalang bergelinding dijalanan yang berdebu, tersiar kabar asmara yang kau bawa dalam cawan cinta tak terbantahkan memang hanya untukku, untukku seorang, sungguh anugerah paling istimewa, hidangan paling melezatkan dan menggugah selera, sesuatu yang mesti aku bayar dengan keringat dan cucuran peluh tanpa harus mengeluh.

Gerobak bermuatan cinta ini akan aku usahakan sampai pada tujuan, suatu perkampungan penuh damai bergapura keperkasaan, dialiri sungai jernih tempat para bidadari mandi bersolek diri, tempat para dewa membaca mantra, tempat para pujangga menyusun sastra, bahkan mungkin malaikat datang hanya sekedar menyampaikan salam sejahtera.

Bila saatnya tiba diperkampungan itu, kita bangun istana dari pelepah nyiur, dengan dua daun pintu pecahan batu surga, yang selalu akan terbuka, untuk  maha raja sampai yang jelata, takkan dibeda-beda, biarlah aroma periuk penanak nasi tercium sampai batas perkampungan, bukan untuk pamer mengundang selera yang sedang dilanda kelaparan, tapi toh memang untuk dibagikan.

Berdo’alah kita di separuh malam, menembus dingin meninggalkan dekapan penuh mesra, aku imami, sebelum kita pergi, menutup mata hingga waktu tak terhingga, usah bersedih, setidaknnya kita tertera pada dada anak-anak kita.

Kini saatnya telah tiba, tanpa harus ragu-ragu, kamu berbisik syahdu, untuk sekedar bilang,“I Love You “.


PERTAMAAAXXX

July 14, 2008

Bisa bergaul dengan bergagai kalangan adalah hal yang sangat menyenangkan, banyak hal yang didapat, dari mulai pengalaman lucu, menyedihkan juga menyenangkan, banyak bergaul bukan berarti memasuki pergaulan bebas menerobos komunitas orang-orang berprilaku negatif seperti pemabuk, pelacur dan penjudi, tetapi berinteraksi mulai dari kalangan bawah, menengah dan atas dengan parameter sosial ekonomi atau intelektual.
Untuk orang yang akrab dengan berbagai kalangan biasa mendapat julukan lowfrofile, itu disebabkan dia bisa akrab dengan big bos sekaligus akrab dengan office boy, dia bisa berkomunikasi lancar dengan atasan juga bercanda tawa riang dengan bawahan, suatu hari dia makan siang di restaurant dengan juragan, di hari yang lain dia bergabi rokok di pos satpam, ide cemerlang lancar keluar ketika meeting, tetapi tak kalah cemerlang memberi solusi pada rekannya yang menumpuk-numpuk utang di kantin.
Paparan diatas mengingatkan akan pengalamanku semasa menangai job sebagai seorang teknisi, tuntutan pekerjaan memaksa untuk bisa masuk keberbagai kalangan dengan status sosial yang berbeda beda, dari mulai rumah kumuh dipinggiran kali yang bila disapu angin puyuh juga rubuh, kediaman artis yang didalamnya terdapat studio musik, istana konglomerat dengan bathroom berkran air emas 18 karat, kantor RW sampai ruangan rektor sebuah perguruan tinggi negeri, pabrik Tahu sampai pabrik Vaksin. Semua membawa cerita penghias pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, saking tak ternilainya, jika ditukar dengan kemauan seroang cewe bloger yang minta dinikahi juga takkan dikasih. ( soalnya belum tentu ada yang mau jadi istri kedua / baca postingan mamah Rita yang berjudul Poligami / cari saja sendiri, kan sudah gede tidak usah pake link segala ).
Pengalamannya akan amat sangat panjang jika diceritakan semuannya, mungkin bisa dijadikan cerita bersambung bahkan dijadikan cerita sandiwara radio layaknya pengalaman seroang pendekar yang bernama Mantili ( ayo siapa yang masih ingat ), atau cerita sinetron Tersanjung yang tidak puguh ujung. Biarlah ceritannya diungkapkan satu persatu sesuai dengan keadaan situasi yang sedang berlangsung, hitung-hitung tabungan yang bisa diambil jika ide untuk postingan lagi mandek.
Cerita edisi kali ini berkaitan dengan judul, dimana para bloger menunjukan penomena kegirangan jika dapat membubuhkan komentar yang pertama dengan tulisan PERTAMA ditambah hurup X sebagai penambah seru, inilah kisahnya :
Suatu waktu sembilan tahun yang lalu, seorang teknisi mendapatkan job untuk setting kamar mandi, kamar mandinya tentu bukan kamar mandi yang terdapat dirumah pinggir kali tetapi kamar mandi rumah seseorang yang bisa dikatakan konglomerat, pasilitas kamar mandi tersebut begitu lux, ruangan ber AC, dengan interior gaya Italia dan pernak pernik cukup canggih lainnya, kalau dihitung-hitung anggaran baiayanya dengan kurs dolar hari ini mungkin setara dengan dua buah kijang inova.
Singkat cerita selesai setting tinggal testing commissioning, tak disangka shower tray tidak bisa dijalankan, malah keluar asap karena korsleting pada system audionya, hal itu membuat trauma si empunya dan shower tray buatan local Asia tersebut akhirnya diganti dengan produk Eropa, apa lacur siempunya masih ragu menggunakan kamar mandi tersebut sebelum benar-benar saftynya meyakinkan.
Demi meyakinkan owner akhirnya teknisi tersebut memberanikan diri menjadi kelinci percobaan demi meyakinkan bahwa fasilitas yang telah dipasang benar-benar aman, tidak diwakilkan pada anak buahnya karena dalam pikirannya belum tentu sekali seumur hidup dapat kesempatan mempergunakan fasilitas mandi seperti itu. Akhirnya dia Pup di closet, urinal dia kencingi , cuci muka di lavatory, dia berendem di corner bathub weerfool ( merem melek serasa dipijit bloger cantik), berbugil ria di shower tray yang dilengkapi fasilaitas audio visual ( radio dan TV ), bejibun air panas dan air dingin, putar-putar kran yang berkilau kaya salah satu gigi si mbok jambu gendong yang selalu mampir tiap pagi meski aku tak beli, dan didapat kesimpulan bahwa fasilitas kamar mandi tersebut sudah aman, baik dari arus bocor listrik, control temperatur air panas, tikus dan kecoa, bahkan aman dari orang yang mau ngintip, akhirnya ditandatanganilah Sertifikat Laik Operasi (SLO) yang dikeluarkan oleh K4M ( Komite Keselamtan dan Kenyamanan Kamar Mandi ).
Waktu itu si teknisi belum terlalu akrab dengan internet, apalagi terdaftar jadi bloger di WP, sehingga kejadiannya berlalu begitu saja, namun hari ini ketika sering nongkrong di depan laptop untuk posting dan baca-baca komen atas tulisannya, baru sadar dan berteriak : PERTAMAAAXXX.