EMOSI HENING

February 21, 2009

Hening ini tak meredam gundah gulana yang bergelayut mengisi kepenatan bathin yang bergelora, meskipun disana ada cinta, tapi ada juga amarah, penyesalan, kejengkelan campur aduk bagai semangkuk sop buah yang tersaji kala matahari berada di ubun-ubun langit. Bercermin terasa penat apalagi begitu muak melihat retakan-retakan kaca yang tidak begitu beraturan, entah kemana harus berlari mencari celah diantara batu-batu yang sulit untuk dibelah, ke timurkah yang penuh dengan lumpur ? ke selatankah yang penuh keserakahan ? ke utarakah yang penuh dengan kemunafikan ? atau ke barat yang sudah penuh sesak ?. Mungkin tengadah satu satunya jalan, dan terbang menembus asa biru sambil mengasah ketajaman sayap agar otot-otot kuat sekokoh tali jembatan pasopati. Hening mulai pecah, raungan sepeda motor menimpali lolongan anjing-anjing dipersimpangan, makin lama makin jauh dan hilang diujung gendang telinga, jengkrik peliharaan pun berhenti bukan karena bulu yang lepas, tapi karena sudah dimakan tikus, Hening lagi. Kertas, buku, kartu nama, bon, semua berserakan menertawakan. Dasi dilonggarkan, kemeja digulungkan, merebah dikursi memegang kepala meski ada senderan, baligo caleg-caleg disebrang jalan tampak jelas dari jendela makin memuakan karena menutupi bilboard bintang iklan sabun mandi. Sampailah di negeri mimpi penuh khayal, tidak mengapa, kata orang kesuksesan dimuali dari mimpi, akan dibuktikan nanti, semua mimpi indah itu jadi kenyataan, akan kuhadapi kenyataan hari ini, karena hari yang lalu hanyalah memory dan hari esok masih misteri. Ternyata sudah pagi.